Pendidikan

Wajib Tahu! Ternyata Skill Lebih Penting daripada Ijazah

Banyak perusahaan besar kini mengabaikan transkrip akademik dan lebih memilih kandidat yang bisa langsung kerja.

ShevadzikraShevadzikra17 Juni 20264 menit baca4 views
ilustrasi seseorang sedang mempresentasikan materi yang sesuai bidangnya

Banyak fresh graduate kaget begitu ijazah S1 dari kampus favorit ternyata nggak otomatis bikin lolos interview kerja. Fenomena skill lebih penting daripada ijazah ini makin terasa nyata di tengah ketatnya persaingan kerja tahun ini, mulai dari startup lokal sampai perusahaan multinasional. Bukan rahasia lagi kalau rekruter sekarang lebih penasaran sama portofolio dan hasil tes kemampuan dibanding deretan mata kuliah di transkrip.

Tren skill-based hiring ini sebenarnya udah berjalan beberapa tahun, tapi baru benar-benar terasa dampaknya belakangan ini. Mulai dari raksasa teknologi sampai instansi pemerintah di luar negeri, satu per satu mulai melonggarkan syarat gelar demi mengejar kandidat yang benar-benar siap kerja. Yuk, simak lebih lengkap kenapa pergeseran ini terjadi dan apa artinya buat kariermu.


Mengapa Perusahaan Besar Mulai Mengabaikan Syarat Ijazah

ilustrasi suasana kantor pemerintahan dengan staf IT memantau beberapa layar komputer
ilustrasi suasana kantor pemerintahan dengan staf IT memantau beberapa layar komputer (pexels.com/@112-uttar-pradesh)

Dilansir Federal News Network, pemerintah Amerika Serikat lewat kebijakan rekrutmen berbasis skill bahkan menghapus syarat ijazah untuk posisi manajer IT di instansi federal pada awal 2026. Targetnya jelas, sebagian besar lowongan pemerintah diarahkan memakai sertifikat keahlian bersama yang bisa dipakai lintas instansi, bukan lagi terpaku pada jenjang pendidikan formal semata. Langkah ini sejalan dengan riset Burning Glass Institute yang sejak beberapa tahun lalu mencatat penurunan signifikan permintaan gelar sarjana di berbagai lowongan kerja kelas menengah hingga tinggi. Kalau dulu ijazah jadi filter pertama buat lolos screening, sekarang banyak perusahaan justru menilai portofolio dan hasil tes kemampuan lebih dulu sebelum melihat riwayat pendidikan.


Skill-Based Hiring Bikin Peluang Kerja Makin Terbuka

ilustrasi dua orang berbeda usia bersalaman setelah sesi wawancara kerja
ilustrasi dua orang berbeda usia bersalaman setelah sesi wawancara kerja (pexels.com/@alphatradezone)

Dilansir riset yang dirangkum Scion Staffing, pendekatan rekrutmen berbasis skill bisa memperluas kumpulan kandidat hingga hampir enam belas kali lipat dibanding metode konvensional yang masih mewajibkan ijazah. Bukan cuma soal jumlah pelamar, cara ini juga terbukti meningkatkan keberagaman tenaga kerja karena banyak talenta otodidak dan lulusan vokasi yang sebelumnya otomatis tersaring di tahap awal kini punya kesempatan yang sama. Menariknya, perusahaan yang konsisten menerapkan skill-based hiring melaporkan tingkat retensi karyawan yang jauh lebih tinggi dibanding metode rekrutmen lama. Buat anak muda Indonesia yang merasa CV-nya kalah saing karena nggak punya gelar dari kampus ternama, tren ini jelas membawa angin segar.


Data Membuktikan Skill Lebih Akurat Memprediksi Performa Kerja

ilustrasi seseorang sedang mengerjakan tes coding di laptop dengan beberapa baris kode terbuka
ilustrasi seseorang sedang mengerjakan tes coding di laptop dengan beberapa baris kode terbuka (pexels.com/@mikhail-nilov)

Dilansir laporan industri yang dikutip Scholaro, hasil tes keterampilan kerja diketahui lima kali lebih akurat memprediksi performa seseorang di lapangan dibanding sekadar melihat latar belakang pendidikannya. Logikanya sederhana, ijazah cuma menunjukkan bahwa seseorang pernah lulus kuliah, sementara tes kemampuan langsung menunjukkan apa yang bisa dikerjakan orang itu hari ini. Riset yang sama juga mencatat lebih dari enam belas negara bagian di Amerika Serikat sudah menghapus syarat gelar untuk posisi di pemerintahan, sebuah angka yang terus bertambah setiap tahun. Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga kenapa makin banyak perusahaan rela investasi waktu lebih buat bikin tes seleksi yang lebih relevan ketimbang sekadar menyaring berdasarkan ijazah.


Tantangan di Balik Tren Skill-Based Hiring yang Belum Merata

ilustrasi rekruter sedang membaca berkas lamaran kerja di meja kantor
ilustrasi rekruter sedang membaca berkas lamaran kerja di meja kantor (pexels.com/@kampus)

Tapi tunggu dulu, kenyataannya nggak semulus yang diumumkan di atas kertas. Dilansir riset gabungan Harvard Kennedy School dan Burning Glass Institute, meski banyak perusahaan mengklaim sudah menerapkan skill-based hiring, kurang dari satu dari tujuh ratus proses rekrutmen yang benar-benar berubah signifikan karena penghapusan syarat ijazah. Artinya, banyak perusahaan baru sebatas mengubah kalimat di lowongan kerja tanpa benar-benar mengubah cara tim HR menyaring kandidat di balik layar. Kesenjangan antara janji dan praktik ini jadi pengingat kalau gelar belum benar-benar hilang sebagai pertimbangan, terutama di bidang yang memang mewajibkan lisensi resmi seperti kedokteran, hukum, dan teknik sipil.


Cara Anak Muda Indonesia Bisa Mulai Membangun Skill Sekarang

ilustrasi mahasiswa belajar coding lewat laptop sambil duduk di kafe
ilustrasi mahasiswa belajar coding lewat laptop sambil duduk di kafe (pexels.com/@divinetechygirl)

Ambil contoh Andi, mahasiswa semester akhir yang merasa IPK-nya pas-pasan tapi jago bikin landing page sejak SMA. Daripada minder soal transkrip nilai, Andi justru rajin ikut kelas singkat coding, ambil sertifikasi gratis dari platform belajar daring, dan bikin portofolio proyek pribadi yang bisa dipamerkan ke calon perusahaan. Strategi semacam ini jadi lebih relevan sekarang karena banyak rekruter mulai melirik bukti kemampuan nyata, bukan cuma deretan gelar di CV. Yang perlu kamu tahu, membangun skill nggak harus mahal, banyak sertifikasi dan kursus daring gratis yang kalau dikerjakan serius hasilnya bisa jadi senjata kuat buat menembus seleksi kerja.


Kesimpulan

Mulai sekarang, coba luangkan waktu buat upgrade satu skill konkret yang relevan sama bidang yang kamu mau geluti, baik lewat kursus daring maupun proyek pribadi. Simpan artikel ini dan share ke teman yang masih ragu soal pentingnya skill dibanding ijazah, biar mereka juga makin pede ngembangin diri.

Bagikan Artikel

Shevadzikra
Shevadzikra

Admin, Main Writer

Pengelola dan penulis utama di SaranBaca. Menghadirkan artikel berkualitas dan rekomendasi bacaan terbaik untuk pembaca Indonesia.

Artikel Terkait