Gaya Hidup

Realita Berat Sandwich Generation Indonesia Saat Ini

Sandwich generation Indonesia menghadapi beban finansial besar karena harus menopang orang tua sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga sendiri.

ShevadzikraShevadzikra13 Juni 20266 menit baca30 views
ilustrasi seorang pemuda duduk dengan tumpukan tagihan
ilustrasi seorang pemuda duduk dengan tumpukan tagihan

Bayangkan kamu baru saja gajian. Sebelum sempat bernapas lega, sudah ada transfer ke rekening orang tua, biaya sekolah adik, tagihan kontrakan, dan kebutuhan rumah tangga sendiri yang antri menunggu. Bulan depan skenario yang sama akan berulang, dan bulan setelahnya juga. Inilah yang setiap hari dijalani oleh jutaan anak muda Indonesia yang masuk dalam kategori sandwich generation.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Dorothy Miller pada 1981, menggambarkan individu yang "terjepit" antara tanggung jawab membiayai orang tua yang sudah tidak produktif sekaligus memenuhi kebutuhan generasi di bawah mereka, baik anak maupun adik. Kalau kamu merasa familiar dengan situasi ini, kamu tidak sendiri. Jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari yang kamu kira.

Daftar Isi:

  1. Seberapa Besar Fenomena Ini di Indonesia?

  2. Kenapa Anak Muda Indonesia Rentan Jadi Sandwich Generation?

  3. Dampak Finansial yang Sering Diabaikan

  4. Beban Mental yang Tidak Kalah Menyiksa

  5. Cara Bertahan Tanpa Mengorbankan Masa Depanmu


Seberapa Besar Fenomena Ini di Indonesia?

ilustrasi statistik tentang sandwich generation
ilustrasi statistik tentang sandwich generation

Angkanya mengejutkan. Dilansir Medium dalam laporan bertajuk "Squeezed Between Two Generations", survei Litbang Kompas 2022 menemukan bahwa 67 persen responden dari 34 provinsi di Indonesia mengidentifikasi diri mereka sebagai sandwich generation. Angka itu didominasi oleh Millennial (43,6 persen), tapi yang mengejutkan adalah Gen Z juga sudah masuk ke dalamnya sebesar 16,3 persen, atau sekitar 11,65 juta individu.

Satu data lain yang patut direnungkan datang dari Badan Pusat Statistik, yang memproyeksikan bahwa sekitar 67,9 juta orang di usia produktif (15 hingga 64 tahun) memiliki tanggungan terhadap kelompok usia nonproduktif, yakni anak-anak dan lansia. Fenomena ini bukan sekadar urusan pribadi; ini sudah menjadi masalah struktural yang memengaruhi cara satu generasi membangun masa depan mereka.

Yang menarik adalah, kondisi ini justru sedang meningkat di tengah tren ketidakpastian ekonomi. Ketika lapangan kerja semakin sulit dan biaya hidup terus naik, generasi muda yang baru saja mandiri langsung dihadapkan pada tanggungan yang tidak mereka rencanakan, jauh sebelum mereka sempat menabung untuk diri sendiri.


Kenapa Anak Muda Indonesia Rentan Jadi Sandwich Generation?

ilustrasi sebuah keluarga lintas generasi berkumpul di ruang tamu
ilustrasi sebuah keluarga lintas generasi berkumpul di ruang tamu

Ada beberapa faktor yang membuat Indonesia secara khusus rentan terhadap fenomena ini, dan bukan semua faktornya bersifat ekonomi. Budaya kolektivisme yang kuat di Indonesia membuat tanggung jawab finansial terhadap orang tua dianggap sebagai kewajiban moral, bukan pilihan. Konsep "balas budi" kepada orang tua yang sudah berkorban menjadi tekanan sosial yang nyata, bahkan ketika kondisi keuangan sang anak belum stabil.

Nah, masalahnya semakin kompleks ketika sistem perlindungan sosial untuk lansia di Indonesia belum sekuat negara-negara maju. Dilansir Medium, data BPS menunjukkan bahwa 77,8 persen lansia di atas usia 60 tahun di Indonesia masih bergantung secara finansial kepada anggota keluarga yang bekerja. Tidak ada dana pensiun yang memadai, tidak ada sistem jaminan hari tua yang universal, sehingga anak-anak merekalah yang otomatis menanggung beban itu.

Faktor lain yang turut menyumbang adalah terlambatnya rata-rata usia menikah dan memiliki anak di kalangan generasi muda kota, sehingga momen merawat orang tua yang menua dan momen membesarkan anak kecil justru bertabrakan dalam satu periode waktu yang sama. Hasilnya adalah tekanan bertubi-tubi yang jatuh di satu titik: bahu sang anak yang baru saja memulai hidupnya sendiri.


Dampak Finansial yang Sering Diabaikan

ilustrasi seseorang kewalahan membagikan uangnya
ilustrasi seseorang kewalahan membagikan uangnya

Sandwich generation bukan hanya soal lelah secara emosional. Dampaknya terhadap keuangan jangka panjang bisa jauh lebih merusak, dan sering kali baru terasa bertahun-tahun kemudian. Dilansir Yahoo Finance, rata-rata caregiver yang menanggung dua generasi menghabiskan sekitar 26 persen penghasilan pribadi mereka hanya untuk biaya perawatan, dan 1 dari 3 orang di antara mereka terpaksa menguras tabungan pribadi untuk menutup kekurangan itu.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah soal dana pensiun. Dilansir U.S. News, hampir 47 persen responden dalam sebuah survei mengaku menunda persiapan pensiun mereka sendiri demi memberikan dukungan finansial kepada orang tua atau anak yang sudah dewasa. Ini adalah jebakan siklus yang berbahaya: ketika kamu menunda tabungan pensiun hari ini, kamu berisiko menjadi beban finansial bagi anak-anakmu di masa depan, dan dengan begitu siklus sandwich generation berpotensi terus berulang ke generasi berikutnya.

Bukan cuma itu, tekanan finansial yang konsisten juga sering mendorong orang untuk mengandalkan kartu kredit atau pinjaman sebagai "bantalan" ketika keuangan menipis. Dilansir FCAA, ketika tidak ada dana darurat yang cukup, satu kejadian tak terduga seperti tagihan rumah sakit atau kerusakan kendaraan bisa langsung membuat seluruh anggaran runtuh seketika.


Beban Mental yang Tidak Kalah Menyiksa

ilustrasi seseorang duduk merenung sendirian di tepi jendela
ilustrasi seseorang duduk merenung sendirian di tepi jendela

Tekanan finansial yang terus-menerus tidak datang tanpa harga psikologis. Dilansir SSM Population Health dalam jurnal yang diterbitkan oleh Pennsylvania State University, mereka yang memberikan bantuan waktu dan tenaga secara aktif ke dua arah, yakni ke orang tua dan ke anak, memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi untuk mengalami tekanan psikologis berat dibandingkan mereka yang hanya merawat satu pihak. Ini bukan perasaan subjektif; ini sudah terukur secara klinis.

Yang penting untuk dipahami adalah temuan menarik dari penelitian yang sama: sekadar masuk dalam kategori sandwich generation tidak otomatis merusak kesehatan mental seseorang. Yang menjadi pemicunya adalah seberapa besar porsi waktu dan energi yang harus dicurahkan secara fisik ke dua arah sekaligus. Ketika kamu harus mengantar orang tua ke dokter, menjemput anak dari sekolah, dan tetap menyelesaikan deadline pekerjaan di hari yang sama, itulah momen di mana beban itu menjadi berat secara akut.

Dilansir HIKE for Mental Health, beberapa dampak kesehatan mental yang paling umum dialami oleh sandwich generation adalah stres kronis, kecemasan tentang masa depan, perasaan bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua kebutuhan, dan burnout yang menyeluruh. Yang kadang luput dari perhatian adalah perasaan kesepian meski dikelilingi banyak orang, karena hampir tidak ada ruang untuk kebutuhan diri sendiri.


Cara Bertahan Tanpa Mengorbankan Masa Depanmu

ilustrasi seseorang menulis rencana keuangan di buku catatan
ilustrasi seseorang menulis rencana keuangan di buku catatan

Berada di posisi sandwich generation tidak berarti kamu harus menyerah pada situasi ini begitu saja. Ada beberapa langkah praktis yang bisa mulai dilakukan, dan idealnya dimulai sebelum situasinya menjadi krisis. Langkah pertama yang sering direkomendasikan oleh para perencana keuangan adalah komunikasi terbuka dengan seluruh anggota keluarga, termasuk orang tua, tentang kondisi finansial yang sesungguhnya.

Dilansir Discover, pakar perencanaan keuangan menekankan bahwa diskusi jujur dengan orang tua soal kebutuhan mereka, termasuk apakah mereka memiliki tabungan, asuransi, atau aset lain, adalah fondasi dari strategi yang sehat. Transparansi ini mencegah asumsi yang salah dari kedua pihak dan membuka ruang untuk pembagian tanggung jawab yang lebih adil, termasuk melibatkan saudara kandung jika ada.

Yang tidak kalah penting adalah soal prioritas keuangan untuk diri sendiri. Dilansir Kiplinger, para perencana keuangan dengan tegas menyarankan untuk tidak menempatkan tabungan pensiun di posisi paling belakang. "Sangat jarang saya menyarankan klien untuk mendahulukan biaya perawatan di atas cadangan kas dan dana pensiun mereka sendiri," kata seorang financial planner yang dikutip Discover. Logikanya sederhana: kamu tidak bisa membantu orang lain secara berkelanjutan jika keuanganmu sendiri kolaps di tengah jalan. Mulailah dengan membangun dana darurat minimal tiga bulan pengeluaran, pertahankan kontribusi pensiun meski kecil, dan tetapkan batasan yang jelas tentang seberapa besar porsi penghasilan yang bisa dialokasikan untuk tanggungan keluarga.

Bagikan Artikel

Shevadzikra
Shevadzikra

Admin, Main Writer

Pengelola dan penulis utama di SaranBaca. Menghadirkan artikel berkualitas dan rekomendasi bacaan terbaik untuk pembaca Indonesia.

Artikel Terkait